Dari Persikad

Disini kita akan berbicara tentang sepakbola. kita akan banyak berbicara sisi positif sepakbola. Bila ada sisi negatifnya biarkan itu menjadi tugas bersama yang harus kita perbaiki.

Tentang SuperDepok

Walau berwarna biru SuperDepok sejatinya 'lintas warna' disini 'warna' tidak lagi menjadi ideologi yang harus dibela. semangat sportivitas dan perdamaian menjadi cita-cita bersama terbentuknya SuperDepok. Harapan tertinggi kami adalah sepakbola benar-benar menjadi hiburan dan tontonan bukan lagi ajang perpecahan.

Tampilkan postingan dengan label Suporter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suporter. Tampilkan semua postingan

Acara Buka Puasa Bersama Super Depok

Menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Kawan-kawan dari Super Depok mengadakan acara Buka Puasa Bersama pada hari Minggu 21 Juli 2013. Bertempat di kios Super Depok yang berada di Jl. Nusantara Raya, tepatnya PLN.

Dalam acara tersebut kami juga turun ke jalan untuk membagikan takjil untuk orang-orang yang melewati jalanan sekitar kios tersebut.
Acara ini cukup ramai, banyak kawan-kawan lain yang menghadiri acara ini.
Dan yang paling penting adalah acara ini juga menjadi ajang bersilaturahmi dan melepas rindu sesama suporter Persikad.

Super Depok yang biasanya berada di tribun stadion Merpati dan mendukung penuh Persikad Depok, kini kembali berkumpul dalam acara buka bersama dan pembagian takjil ini.
Super Depok menunjukan bahwa sesungguhnya suporter Persikad Depok selalu eksis dan selalu mendukung Persikad Depok.
Kawan-kawan dari Super Depok pun siap mendukung Persikad musim depan. Super Depok tak akan kemana-mana.

Berikut beberapa gambar kegiatan tersebut :


Kami Super Depok, berterima kasih kepada teman-teman yang sudah menyempatkan datang dan membantu kami dalam suksesnya acara ini.

Semoga kita semua di berikan kelancaran di bulan yang penuh berkah ini. Dan semoga kita semua nanti bisa bertemu lagi di stadion kebanggaan kita Merpati untuk mendukung penuh Persikad Depok.

Sekali lagi, Terima kasih!

Sumber : Super Depok Cyber Bookmark and Share Selengkapnya...

Persikad ku sayang Persikad ku Malang

Kurang lebih 11 Bulan Gaji para pemain Persikad belum terbayarkan
para pengurus Persikad sendiri seakan lepas tangan dan hanya memberikan janji-janji tanpa bukti.
seharusnya hari ini Persikad menjalankan partai Tandang melawan PSPS Pekan Baru Riau tapi karena masalah dana yang tak pasti para pemain Persikad tidak menjalankan partai tandang tersebut. hingga akhirnya kehilangan 3 point.


Bagaimana nasib Persikad saat ini ?
apakah nasib tim kota Depok ini cuma sampai disini saja ?
segelintir kabar mengabarkan Persikad akan bubar dan Persikad akan dijual.
kalau memeng hal tersebut terjadi apalagi yang dibanggakan dari kota Depok ini ?
Persikad ku sayang Persikad ku malang
semoga semua ini cepat berakhir dan Persikad kembali pada masa kejayaannya dan menjadi kebanggaan warga Depok khususnya.
Bookmark and Share Selengkapnya...

Mengubah Rasa Takut Menjadi Kekuatan

Kisah lain datang di era modern, dari lapangan sepakbola Sepak bola Inggris identik dengan kerasnya permainan sepanjang pertandingan. Ganjal sana, tekel sini, itu sudah biasa bagi pemain Premier League. Justru itu yang membuat Gerrard ketakutan dan ia tak mau lagi melakukannya.


Gerrard mendapat kartu merah pertama saat usianya masih 19 tahun. Itu terjadi pada duel panas derby Merseyside antara Liverpool dan Everton. Ia menjadi pemain ketiga yang harus keluar dari pertandingan tersebut setelah Francis Jeffers (Everton) dan kiper The Reds, Sander Westerveld, diusir karena berantem di lapangan.

Di usia ke-20, Gerrard semakin dikenal sebagai pemain agresif dan tak mau kalah dalam perebutan bola. Sampai kini, gelandang Inggris ini sudah mengantongi lima kartu merah, semuanya terjadi di kancah liga.

"Ketika aku masih muda, kepalaku mudah panas, lalu melakukan pelanggaran bodoh dan dikeluarkan dari lapangan," kenangnya akan masa lalu seperti dikutip majalah Champions.
Ia akhirnya menyadari bahwa perbuatan semacam itu akan mengancam reputasinya. Ia berubah menjadi pemain santun di lapangan.
"Itu membuatku cemas. Aku tidak ingin memiliki reputasi sebagai pemain kasar. Aku mulai membayangkan apakah aku bisa melakukan tekel lagi. Aku takut berada dekat dengan pemain lawan," tambahnya.

Sikap santunnya itu membawa berkah baginya dan ia pun menjadi kapten The Kop sejak 2003, menggantikan Sami Hyypia. Musim lalu penampilannya bersih dari kartu merah.
Kisah diatas mengajarkan pelajarkn penting yang harus kita ambil segera. Pelajaran itu adalah mengubah rasa takut menjadi kekuatan bagi diri sendiri. Steven Gerrard telah melakukannya dan memberikan kita banyak pelajaran. Takut karirnya akan berakhir akibat gaya permainannya, Gerrard langsung mengambil keputusan untuk merubah gaya bermainnya.

Walaupun itu tdaik mudah dan butuh proses Steven Gerrard telah berhasil melakukannya. Bahkan kini ia dikenal sebagai seoarang pemain yang memilik tackling yang baik., selain dikenal sebagai gelandang handal di dunia.

Kita semua tentu pernah merasa takut. Kunci menghadapinya adalah jangan biarkan perasaan itu bertahan lama dalam diri kita. Pikirkan hal lain sejenak! Hal yang terpenting adalah bagaimana memutarbalikkan perasaan irrasional menjadi energi yang berguna untuk memperbaiki kehidupan kita.

Buat rasa takut menjadi Motivator! Dan sebab kita untuk berubah. Ketika anda mulai merasa takut, segera putar balikkan perasaan itu menjadi sebuah bahan bakar yang anda butuhkan untuk tetap membakar semangat anda. Seringkali anda merasa takut ketika sesuatu yang bernilai melintas dalam pikiran anda. Namun resikonya lebih besar dari yang akan diperoleh! Mulailah mengenali bahwa perasaan takut yang kelam itu merupakan awal dari masa depan yang lebih cerah.

Perhatikan hal berikut, jika anda tidak merasakan takut pada situasi tertentu, kemudian hal itu tidak cukup membuat anda mempertimbangkannya. Disinilah letak kekuatan Rasa Takut itu seharusnya! Dan semua rasa takut itu harusnya kita sikapi seperti ini.

Kebanyakan, rasa takut itu hanyalah badai sejenak yang akan berhenti dengan sendirinya. Manfaatkan Rasa Takut itu, dan jangan biarkan Kita dimanfaatkan olehnya!
Jadikan Rasa Takut itu sebagai banteng kita, jangan untuk melumpuhkan diri kita!

Maka apa yang kita butuhkan adalah menguasai rasa takut agar dapat digunakan sesuai kepentingan kita untuk menginginkan atau menghindar secara positif. Beberapa ide berikut dapat kita jadikan benih-benih kebiasaan hidup yang bisa mengasah kemampuan menguasai rasa takut sukses dalam kondisi hidup normal baik di kantor atau di mana saja.

1. Membiasakan diri dengan keberanian berinisitif. Apa pun yang anda lakukan, jalankanlah atas inisiatif dari dalam, bukan karena ajakan orang lain atau karena mengajak orang lain. Keberanian berinisiatif akan memperjelas jawaban bahwa ternyata apa yang kita takuti selama ini bukanlah hal yang menakutkan. Keberanian berinisitif juga akan menanamkan rasa tanggung atas resiko hidup.

2. Membiasakan diri dengan berpegang teguh pada pendirian hidup (to persist) ketika inisiatif bertindak telah kita cetuskan. Apapun yang anda mulai, ketika gagal jangan lantas ditinggalkan meskipun anda tidak melakukan pertahanan di jalur yang sedang "berbadai". Berhentilah sejenak (to pause) atau berubahlah secara kreatif. Sampai anda bisa berhasil dengan realisasi inisiatif, anda belum pernah akan merasakan rasa percaya diri bahwa diri anda mampu. Dengan pengalaman merasakan sukses, kita akan dibimbing untuk menjauhkan hidup dari pola lama yang didominasi oleh kontrol the perceived self menuju pola baru the real self.

3. Membiasakan diri dengan keberanian menaklukkan tantangan hidup (to conquer challenge) atau memiliki mentalitas "I CAN". Prestasi hidup tidak dapat diraih kecuali setelah anda berani meyakini bahwa apa yang di dalam diri lebih besar ketimbang tantangan di luar. Mentalitas bangkit demikian merupakan awal menuju realisasi kebangkitan yang sebenarnya. Kebangkitan tidak bisa dimiliki oleh orang yang bermentalitas roboh oleh tantangan. Tepatlah apa yang dikatakan Jim Rohn, kebangkitan finansial seseorang tidak dimulai dari faktor kebangkitan ekonomi tetapi dari faktor kebangkitan filosofi. Hanya saja yang sering kita lakukan adalah menunggu terjadinya kebangkitan ekonomi untuk membangkitkan kemakmuran finansial. Menunggu situasi sempurna dan bebas dari hambatan sebagai syarat untuk berinisiatif, padahal kesempurnaan itu hakekatnya tidak pernah ada kecuali kita ciptakan.

4. Membiasakan diri untuk memperkecil "zona unknown" di wilayah hidup kita dengan mempelajari pengetahuan (knowledge), meningkatkan kemampuan (ability) dan menambah keahlian (skill). Logika alamiahnya sangat jelas. Bagi orang yang tidak tahu seluk beluk hutan mungkin mendengar kata hutan saja sudah takut tetapi tidak demikian bagi yang mengetahuinya. Memperkecil zone unknown dengan pembelajaran adalah kurikulum alamiah di mana semua keahlian manusia diperoleh dengan cara ini (baca: maksudnya belajar) yang terkadang melibatkan try dan errors.

5. Membiasakan diri dengan menambah dukungan eksternal. Tidak selamanya benar kalau dukungan ditafsirkan harus berupa materi. Dalam bisnis misalnya networking atau relationship adalah dukungan. Bahkan dalam dunis bisnis relasi dapat dikatakan sebagai suatu produk (Relationship in business is product). Ketika pebisnis menghadapi ancaman keterbatasan modal material, maka keterbatasan tersebut masih belum menakutkan apabila ia punya cadangan yang saat ini berada di tangan orang lain atau mengenal orang yang bisa diminta bantuan untuk menyelesaikan keterbatasannya atas dasar relationship trust. Maxwell mengatakan: " Tidak ada problem yang tidak selesai dengan dukungan orang banyak tetapi hanya sedikit yang selesai tanpa dukungan". Menemukan dukungan eksternal bisa dilakukan dengan mengasah keahlian membuat sinergisasi keunggulan dalam bentuk apapun.

Walhasil, ras takut adalah fenomena manusiawi dan alamiah atau normal dalam pengertian mayoritas. Kepada kitalah ditawarkan pilihan apakah kita memilih menjadi bagian dari kelompok mayoritas yang berarti gagal atau memilih menjadi bagian kelompok minoritas: orang-orang sukses dengan gagasannya. Selamat memilih.

Perasaan takut dapat diibaratkan seperti gunung yang menutupi pola pikir kita.
Ketika perasaan itu muncul, hadapi dan buang dengan segera! Setiap saat anda merasa musuh yang tidak terlihat itu menyerang dan meracuni pikiran anda – BERHENTI sejenak!! Dan kendalikan pikiran anda dengan segera. Keluar dari perasaan itu! Rasa takut merupakan kesalahan dan akan menjadi setan pengganggu. Apa yang anda pikirkan sebenarnya tidak akan pernah terjadi. Kenyataanlah yang akan berbicara jadi kenapa harus berkutat pada perasaan itu?
Bookmark and Share Selengkapnya...

Otokritik Untuk Kelompok Suporter

Saya pernah merenung bahwa hadirnya kelompok suporter sepakbola di Indonesia terkadang malah meruntuhkan ikatan yang telah di ikrarakan oleh para pemuda dalam tahun 1928 yang lebih kita kenal dengan nama Sumpah Pemuda.


Kita semua tahu, latar belakang timbulnya sumpah pemuda adalah semangat perjuangan yang dirasakan tidak berjalan seiringan. Atau dalam bahasa lainnya saat itu lebih berasa nuansa kedaerahan daripada nuansa persatuan. Saat itu kita kenal banyak kelompok pemuda yang menamakan denga nama-nama daerahnya sendiri. Seperti Jong Ambon, Jong Java, dan lain-lain.

Para pemuda saat itu merasakan kalo begini terus akan bahaya perjauangan ini, karena kita akan lebih mudah dipecah belah juga tanpa adanya satu komando. Mereka akan bergerak sendiri-sendiri. Maka itulah mereka bersepakat untuk menyatukan langkah dan gerak. Sepakat berkumpul lalu berikrar bersama, yang kemudian kita kenal dengan Sumpah Pemuda.

Seharusnya semangat sumpah pemuda itu yang dibawa oleh para kelompok suporter yang telah terbentuk dan ada saat ini. Bukan malahana sebaliknya. Kita boleh mendukung klub dari daerah kita sendiri, tetapi bukan berarti kita juga melegalkan berbuat anarkis dan kerusakan atas nama daerah pula. Ini bahaya.

Perkembangan yang ada saat ini memang demikian. Banyak kelompk suporter yang lebih mengedapankan sikap kedaerahan. Kita mengenal Bonek, Viking, The Jak, dan lain lain. Slogan-slogan yang mereka pakai sangat kental dengan kedaerahan mereka. Bahkan tak jarang spanduk-spanduk yang mereka bikin sudah mulai ada nada pelecehan terhadap daerah lain.

Dan ini ternyata tidak hanya berlaku saat pertandingan berlangsung. Diluar pertandinganpun ini berlaku. Banyak anggota The Jak yang sangat anti dengan apapun yang berbau Persib Bandung. Ada seorang kawan yang terpaksa untuk melepaskan kaos Viking dibawah ancaman anak-anak The Jak. Begitu juga sebaliknya, anak-anak Viking akan sangat tidak rela dengan atribut Persija di wilayahnya.

Asli, sikap ini kalo tetap dibirakan akan berbahaya dan terus liar saja, Memang dipermukaan ini tidak tampak dengan nyata Ibarat bola salju yang menggelinding dari atas kebawah, maka semakin lama gumpalannya akan semakin besar dan memiliki kekuatan yang besar dalam menghantam apa saja yang dilaluinya. Tetapi dibawah sikap-sikap seperti ini sudah banyak muncul dan kelihatan. Satu contoh saja ketika penulis hadir dalam satu acara ulang tahun kelompok suporter, disitu sangat kental sekali nuansa kebencian terhadap satu kelompok suporter. Bahkan, salam salah satu liputan dan wawancara yang dilakukan oleh salah satu stasiun televise swasta, seoarng yang dianggapsebagai panglima salah satu kelompok suporter dengan tegas mengatakan tidak ingin berdamai dengan kelompk suporter yang dianggapnya sebagai musuh. Bahkan, dengan tegas ia menganggap ini sebagai perang abadi. Begitu juga dalam salah satu kaos kelompok suporter lainnya. Jelas-jelas terbaca ajakan atau undangan perkelahian kepada rivalnya yang lebih parah ini kedua kelompok suporter ini berada dalam wilayah yang sama. Hanya mendukung dua tim yang berbeda.

Jelas sekali jika sikap-sikap ini terus dipupuk dan dipelihara merupakan pengkhianatan terhadap apa yang diikrarkan dalam peristiwa Sumpah Pemuda. ini juga sikap antiklimaks terhadap slogan negara kita yang Bhineka Tunggal Ika. Inilah yang harus kita sadari. Sejujurnya dukung-mendukung itu adalah suatau kewajaran. Yang tidak wajar adalah ketika dukungan itu ditunjukkan dengan sikap-sikap anarkis dan destruktif. Ini jelas tidak bisa dibenarkan dan dibiarkan begitu saja. Saatnya kita yang mengkau Suporter sepakbola berbenah diri.
Mari jadikan ini sebagai ajang adu kreativitas. Sesungguhnya suporter yang baik, bukanlah suporter yang ngamuk ketika klub kesayangannya kalah. Dlam pertandingan olahraga menang-kalah itu biasa, dan yang terpenting adaqlah bagaimana sikap kita ketika menghadapi situasi tersebut. Kita memang suka dengan kemenangan. Tetapi ketika kekalahan tidak bisa dihindarakan mari kita terima itu sebagai bahan buat introspeksi dan pembenahan lagi. Jadilah suporter yang santun, sebagaimana apa yang dituangkan sewaktu kita ikut Jambore Suporter. Lagi-lagi ikrar ini kita yang mengucapkan maka akan sangat naïf ketika cita-cita yang sudah kita ikrarkan bersama, kita hancurkan dengan tangan sendiri. Jadi jangan seperti lagu dangdut tempo dulu yang bersyair.

Kau yang mulai, kau yang mengakhiri,
kau yang berjanji kau yang khianati…

Bookmark and Share Selengkapnya...

Fanatisme tanpa batas

Saking mencintai Liverpool, ratusan ribu fans the reds berencana mengambil alih klub kesayangannya itu dari dua taipan Amerika Serikat, Tom Hicks dan George Gillets. Liverpudlians, sebutan fans Liverpool, membentuk konsorsium untuk menguasai klub terkemuka di Inggris itu. Mereka gerah melihat performa Liverpool yang tak kunjung membaik di bawah kendali Hicks-Gillett, yang dinilai hanya ingin mengambil untung dari klub.


Karena prihatin dengan apa yang dialami tim kebanggaan mereka, Liverpudlians akhirnya mencanangkan rencana besar tersebut. Mereka telah membentuk organisasi baru bernama “Share Liverpool FC”. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menggalang dana dari kalangan suporter untuk membeli klub kesayangan mereka itu. Untuk melakukan buy-out mereka membutuhkan kira-kira 500 juta poundsterling atau sekitar Rp 9,2 triliun.
Dilaporkan BBC, tiga pencetus organisasi ini dikenal sebagai fans setia Liverpool, yakni pengusaha Rogan Taylor, mantan direktur komunikasi di Premier League Phil French, dan pengacara Kevin Jacquiss.
Rogan Taylor mengatakan, sudah saatnya klub-klub dikontrol oleh fans. Hal ini sudah terjadi di Spanyol dan Jerman. “Sekarang saatnya ada solusi yang berbeda tentang kepedulian fans terhadap klub. Dengan memiliki klub, mereka ikut membesarkan klub,” ungkap Taylor seperti dikutip BBC, Kamis (31/1).

“Ribuan fans Liverpool sudah memperlihatkan bentuk ketidakpuasannya dengan apa yang terjadi saat ini. Sejumlah investor kaya banyak yang beralih kepada klub-klub yang baru saja dijual. Tapi fans tahu bahwa pada akhirnya mereka (investor) yang harus membayarnya dengan cara menaikkan harga tiket atau dengan rencana lain,” tambah direktur Football Industry Group di Universitas Liverpool itu.

Untuk memuluskan tujuan tersebut sebuah situs akan segera diluncurkan. Teknis penggalangan dana itu pun akan diumumkan kemudian. Tapi konon masing-masing fans yang tertarik bisa menyumbang minimal 5.000 pounds atau sekitar Rp 92 juta.
Mereka, para suporter Liverpool terinspirasi dengan gerakan yang dilakukan oleh fans Barcelona, yang kemudian menjadi member-share klub raksasa Spanyol itu. Dengan jumlah suporter 100 ribu orang, diharapkan dana yang terkumpul 500 juta poundsterling atau sekitar Rp 9,2 triliun, sehingga mereka bisa membiayai The Reds. Memang, saat ini Liverpool sedang kritis. Sejak diambilalih oleh Gillett-Hicks tahun lalu. Klub yang penuh dengan sejarah tersebut selalu berhadapan dengan masalah. Inilah yang membuat pendukung fanatiknya cemas.

Disudut kota selatan Jakarta, sekelompok anak muda berpakain Baju Oranye mencolok dengan bacaan Gue Anak Jakarta tengah asyik mengobrol. Usia mereka kira-kira 16-17 tahunan. Sesekali terdengar obrolan, “gile Bambang maennya mantab banget” sedang temannya yang satu menimpali, “heheh.. namanya juge Bepe”
Bisa dilihat mereka adalah kumpulan supporter fanatik persija Jakarta, yang sering disebut dengan The Jakmania. Mereka sangat cinta dengan Persija, konon kecintaan mereak lebih besar dari kecintaan mereka kepada pacar sendiri. Hehehe, ini guyon dari seorang teman.
Namun, fanatisme terhadap klub sepakbola tidak hanya terjadi di Jakarta saja, hampir seluruh klub sepakbola di Indonesia memiliki supporter fanatic. Bahkan sampai tim Tarkam aja memiliki penonton fanatik.

Jauh disana (diluar negeri maksudnya) para klub-klub besar juga memiliki supporter fanatik. Klub-klub sekelas Liverpool, Manchester United, Arsenal, AC Milan dan lainnya bisa dipastikan memiliki supporter fanatiknya sendiri.

Bentuk-bentuk fanatsime yang dilakukan oleh suporter sepakbola memang suka membuat orang geleng kepala dan gak percaya. Mereka suka melakukan apa aja demi untuk kepentingan klub yang dibelanya. Bahkan ketika mereka melihat seoarng pemain yang dianggap tidak memiliki semangat juang yang baik kepada timnya, mereka gak akan segan-segan melakukan terror kepad ayang bersangkutan.

Jika mengacu ke Wikipedia, Fanatisme diartikan sebagai sebuah keadaan di mana seseorang atau kelompok yang menganut sebuah paham, baik politik, agama, kebudayaan atau apapun saja dengan cara berlebihan (membabi buta) sehingga berakibat kurang baik, bahkan cenderung menimbulkan perseteruan dan konflik serius. Alois Nugroho mendefinisikan fanatisme sebagai sebuah antusiasme dan keyakinan seyakin-yakinnya bahwa perspektif sebuah kaum adalah perspektif sentral, dalam arti satu-satunya perspektif yang benar atau satu-satunya perspektif paling benar. Makna “kebenaran”ini sendiri bersifat kaku dan subjektif di mata kalangan fanatik karena perspektif diluar mereka berarti menyimpang, salah dan wajib dienyahkan dari kehidupan masyarakat.

Fanatisme tidak hanya menjangkiti ranah religius saja melainkan sampai pada pemahaman ideologis, contohnya nasionalisme dan komunisme. Alois mengambil contoh pembunuhan Barnett Slepian, seorang doktor pro-aborsi, oleh Charles Kopp yang merupakan aktivis fanatik anti-aborsi pada 23 Oktober 1998. Hal ini membuktikan bahwa fanatisme mempunyai dampak negatif dalam diri seseorang maupun kelompok karena meminggirkan “nalar kritis”untuk sementara waktu. Begitu juga fanatisme menuju ranah sepakbola.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, fanatisme juga berarti kesenangan yang berlebihan (tergila-gila, keranjingan). Sepenggal perjalanan kisah hidup Chairil Anwar adalah salah satu contoh saja. Dia lebih berat membeli buku sastra daripada membeli makanan untuk bertahan hidup, atau obat untuk menyembuhkan penyakit raja singa yang dideritanya. Lihat pula penggemar fanatik grup band Slank yang rela membentuk komunitas, lengkap dengan pengurus dan benderanya setiap distrik, meski tanpa bayaran. Dipastikan, mereka wajib hadir jika grup pujaannya melakukan konser di daerah mereka.

Dalam sepakbola sikap fanatsime bisa diilustrasikan seperti ini:
Saya mempunyai keterikatan emosional dan tanpa kritik terhadap Klub Persikad Depok. Keterikatan itu timbul karena Persikad itu gw banget deh…. Persikad lalu menjadi identifikasi pribadi diri terhadap sesuatu yang diluar sana. Keterikatan itu kemudian menjadi suatu keyakinan bahwa Persikad adalah segalanya. Segala hal diluar Persikad yang bertentangan adalah salah dan gak bener. Keyakinan itulah yang membuat saya bisa mendobrak rintangan-rintangan moral dalam bertindak terhadap musuh-musuh saya, termasuk menghalalkan darah mereka-mereka yang menjadi musuh Persikad. Semua musuh Persikad harus dibasmi dari muka bumi ini.


Kalau kita sudah memiliki sikap seperti ini maka waspadalah. Sesungguhnya sikap fanatisme telah menjangkiti diri kita. Tetapi disisi yang lain sikap fanatis juga bisa menimbulkan hal-hal positif. Suporter Liverpool tadi contohnya. Slogan ‘You’l Never Walk Alone’ tidak hanya menjadi slogan kosong tanpa makna. Kalimat ini sudah tertanam kuat dalam diri suporter The Reds dan para pemainnya. Mereka akan selalu mendukung setiap pemain The Reds yang tampil meskipun itu hanya seorang Emiliano Insua (Pemain muda The Reds). Maka denga begitu akan tercipta perasaan optimis dari suporter kepada pemainnya. Bila sudah begini bukan caci maki yang keluar dari mulut mereka sewaktu melihat pemian muda tampil dan melakukan kesalahan tetapi adalah dukungan dan semangat.

Kita lihat bagaimana suporter The Gunners dengan sabar selalu menyemangati para skuad muda Arsenal yang masih minim pengalaman, baik pada saat berlatih maupun saat pertandingan. Meraka gak lelah memotivasi para pemainnya, hingga itu berbuah manis dan Arsenal menjadi kekuatan baru yang minim bintang terkenal.

Fanatisme di benak suporter Barnsley adalah kemenangan. Saat takdir mempertemukan tim mereka dengan Chelsea dalam semifinal piala FA 2008, mereka tidak langsung mengaku kalah. Sebelum pertandingan dilangsungkan hasil apapun bisa terjadi. Maka sikap fanatisme yang disalurkan menjadi dukungan yang menyemangati tim menjadikan Barnsley sebagi penakluk raksasa.

Bookmark and Share Selengkapnya...

 

bersatu

manahan

beraksi

demo PSSI

pasoepati

sepakbola indonesia

Demo PSSI

revolusi PSSI