Dari Persikad

Disini kita akan berbicara tentang sepakbola. kita akan banyak berbicara sisi positif sepakbola. Bila ada sisi negatifnya biarkan itu menjadi tugas bersama yang harus kita perbaiki.

Tentang SuperDepok

Walau berwarna biru SuperDepok sejatinya 'lintas warna' disini 'warna' tidak lagi menjadi ideologi yang harus dibela. semangat sportivitas dan perdamaian menjadi cita-cita bersama terbentuknya SuperDepok. Harapan tertinggi kami adalah sepakbola benar-benar menjadi hiburan dan tontonan bukan lagi ajang perpecahan.

Suporter Sepakbola

Sepakbola tanpa Suporter ibarat rendang tanpa daging. Gak enak. Makanya banyak pihak mengibaratkan supporter itu ibarat pemain kedua belas bagi suatu klub sepakbola, selain tentunya juga menjadi sumber pendapatan. Terlebih di era ketika sepakbola sudah mejadi kekuatan ekonomi, maka peran supporter menjadi sesuatu yang fital bagi keberhasilan suatu klub.


Menurut pak Suryanto dari Fakultas Psikologi Universitas Airlngga Surabaya, (http://suryanto.blog.unair.ac.id) makna Suporter itu beda dengan makna penonton biasa. Secara harfiah, istilah “penonton” berasal dari awalan pe- dan kata kerja tonton dalam bahasa Indonesia. Awalan pe- dalam hal ini berarti orang yang melakukan pekerjaan sesuai dengan kata kerja. Bila kata kerjanya tonton, maka penonton berarti orang yang menyaksikan suatu pertunjukan atau tontonan.

Sementara itu menurut akar katanya, kata “suporter “ berasal dari kata kerja (verb) dalam bahasa Inggris to support dan akhiran (suffict) –er. To support artinya mendukung, sedangkan akhiran –er menunjukkan pelaku. Jadi suporter dapat diartikan sebagai orang yang memberikan suport atau dukungan.

Dilihat dari kedua pengertian di atas jelaslah apabila antara ‘penonton’ dan ‘suporter’ memiliki makna yang berbeda, terlebih lagi apabila kata tersebut digunakan dalam persepakbolaan. Penonton adalah orang yang melihat atau menyaksikan pertandingan sepakbola, sehingga bersifat pasif. Sementara itu suporter adalah orang yang memberikan dukungan, sehinga bersifat aktif. Di lingkungan sepakbola, suporter erat kaitannya dengan dukungan yang dilandasi oleh perasaan cinta dan fanatisme terhadap tim.

Atau bahasa sederhanya begini: penonton adalah mereka yang hanya ingin menonton sepakbola aja, tanpa perduli dukung mendukung pada suatu tim, mereka hanya ingin menikmati permainan cantik sepakbola sedang mengenai klub mana yang didukung itu nomor sekian. Sedangkan suporter adalah penonton sepakbola yang mendukung satu tim tertentu, dan siap menyerahkan seluruh tenaganya dalam memotivasi klub kesayangannya tersebut.

Suporter sepakbola dengan suporter olahraga lain banyak perbedaannya. Yang pertama jumlahnya lebh besar, ini mungkin karena stadion yang digunakan juga berukuran besar. Stadion Utama Bung Karno saja bisa memuat 100.000 lebih penonton dalam satu pertandingan. Suporter sepakbola juga dikenal lebih atraktif, lihat aja pertandingan sepakbola didalam negeri kita akan melihat tingkah-tingkah kreatif mereka yang sekarang juga menjalar ke cabang olahrga lainnya. Suporter sepakbola juga lebih dikenal memiliki fanatisme yang tinggi bahkan cenderung suka kelewat batas.
Suporter adalah potret kebersamaan. Kita bisa melihat bagaimana konsep “bangsa” tiba-tiba menyeruak di antara reruntuhan nasionalisme. Kita bisa merasakan semangat solidaritas ini bisa terlihat sewaktu digelar hajatan Piala Asia 2007 yang lalu. Disana kita bisa merakasan kembali kesatuan sebagai bangsa Indonesia yang telah lama hilang terseret arus kapitalisme dan globalisasi. Bagaimana dengan gagahnya para penonton saat itu bangga menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lagu yang jarang sudah kita kenal. Begitu juga bagaimana dengan pedenya kita yakin mampu bersaing dengan negara-negara seperti Arab Saudi dan Korea Selatan, yang sudah lama terkanal sebagai macan sepakbola di Asia.

Cerita lain dating dari Serbia. Sewaktu mereka membantai negara Islam Bosnia, suporter sepakbola dijadikan sebagai agen mencari relawan. Bahkan salah satu pemimpin pejuang Serbia adlah seorang holiggan daru klub Red Star Beograde.
Suporter adalah nyawa sepakbola. Suporterlah yang membuat ramai pertandingan. Bahkan suporterlah yang menghidupkan sepak bola itu sendiri. Dinegara maju, suporter mereka sudah cerdas, walaupun kadang ada beberapa kasus yang memalukan. Suporter yang cerdas adalah suporter spotif, tidak anarkis, tidak lugu, punya pengetahuan dan kepedulian terhadap timnnya.

Tingkah polah merekapun macam-macam. Dari mulai bersorak untuk memberi semangat, marah jika timnya dicurangi, berkomentar, sampai memberikan masukan pada tim kesayangannya tentang pelatih yang harus diganti atau dipertahankan, pemain yang layak atau tidak layak, pemain yang harus didatangkan, dan yang labih menarik, penonton disana akan memberikan applaus kepada tim lawan bila mereka bermain cantik, dan sebaliknya memberikan cemoohan kepada tim kesayangannya bila mereka bermain buruk.

Suporter yang baik adalah suporter yang selalu memberikan masukan sebagai bentuk perhatian. Suporter yang selalu memberikan dukungan bila timnya bermain bagus, dan tentu saja memberikan catatan bahkan cemoohan bila timnya bermain buruk. Mereka tidak loyalitas buta untuk terus mendukung timnya sejelek apapun timnya bermain. Makanya, jangan heran bila dibanyak pertandingan kita menyaksikan ada suporter yang meninggalkan lapangan pertandingan sebelum berakhir sebagai protes terhadap timnya yang bermain buruk. Bahkan dalam beberapa kasus ada suporter tim tuan rumah yang mendukung tim tamu sebagai protes karena tim dukungannya bermain buruk dan mengecewakan.

Tim yang tahu begitu berharganya suporter tentu sangat menjaga mereka. Banyak tim mendirikan Klub-klub suporter, misalnya MU Fansclub, Interisti, Milanisti, Aremania, Jackmania, dan lain-lain. Tim yang baik sekaliber Milan dan Madrid sangat mendengarkan saran dan masukan serta kepuasan suporternya, agar mereka tidak ditinggalkan. Jarang sekali mereka menyinggung perasaan suporter. Setiap masukan mereka terima, komentar buruk mereka terima. Cemoohan mereka terima. Untuk kemudian mereka memperbaiki timnya.

Kadang ada saja suporter memberi komentar pribadi kepada pemain kesukaannya. Pemain sekaliber Ronaldo dan Ronaldinho, pemegang dua kali gelar pemain terbaik sejagad, pernah dicemooh suporter. Ketika permainan mereka menurun, suporter menuduh mereka kelebihan berat badan . Kelebihan berat badan ini katanya akibat dari perilaku hidupnya yang sering hura-hura (hidupnya mewah sih...), malas latihan dan sering keluar malam. Apakah mereka marah diserang sampai kepada kehidupan pribadinya! Ya, mereka marah sebentar, namun mereka cepat sadar, untuk kemudian kembali berlatih dan menjaga pola hidup mereka. Hasilnya terlihat sekarang, Ronaldo mulai membaik, Ronaldinho mulai menemukan permainannya kembali.

Keberadaan supporter atau pendukung merupakan salah satu pilar penting yang wajib ada dalam suatu pertandingan sepakbola agar suasana tidak terasa hambar dan tanpa makna. Kehadiran supporter dalam mendukung negaranya masing-masing sangat terasa efeknya dalam mengobarkan semangat bertanding dalam diri para pemain. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para supporter mungkin sama efeknya dengan energi yang dimunculkan dari doping dalam memacu semangat, yaitu para pemain semakin bernafsu untuk mempersembahkan kemenangan untuk memuaskan para suporternya.

Kreatifitas suporter biasanya dilengkapi dengan berbagai atribut dan perlengkapan. Mulai dari aneka topi yang berwarna warni sesuai warna bendera Negara, syal, bendera, bertelanjang dada (untuk supporter pria) dengan tubuh dan wajah yang diolesi cat atau membawa terompet serta drum sebagai genderang untuk tetabuhan.
Bukti bagaimana suporter dapat merubah penampilan timnas, adalah sewaktu degelarnya hajatan Piala Dunia 2004 di Jepang dan Korea Selatan. Banyak pengamat yang saat itu kedua tuan rumah hanya akan jadi tim penghibur semata. Mereka hanya akan bergelar menjadi tuan rumah yang baik, tapi soal prestasi mereka belum bisa meraihnya.
Tapi apa yang terjadi kedua tuan rumah itu tampil mengejutkan. Terlebih Korea Selatan, yang mampu menembus babak semifinal, sanggup mengalahkan klub sekalas Italia, yang bertaburan bintang. Jelas ini mengjutkan, usut punya usut keberhasilan kore selatan saat itu ditentukan oleh semangat juang tinggi yang dimiliki oleh para pemainnya. Na, semangat juang tinggi ini hadir karena dukungan suporter yang membabi buta. Saat itu para suporter fanatic Korea Selatan mampu membuat seluaruh isi stadion berwarna merah, warna kebanngaan timnaas Korea Selatan, bahkan gak cukup hanya distadioan saja, sebelaum pertandingan berlangsung merek atelah menggelar pawai keliling kota-kota di Korea Selatan untuk membuat nyali tim lawan ciut, dan menambah daya juang pemain Korea Selatan.

Yah, inilah rahasia suksesnya Korea Selatan mampu bersaing dengan macan-macan sepakbola waktu itu. Selain tentunya tanagn dingin sang pelatih waktu Guus Hidink. Hehehe.. sebagai lelucon dan intermezzo, teman saya mengatakan bahwa Gus Hidink adalah orang belanda kelahiran Jawa Timur, mau tahu kenapa? Karena itu tadi nama depannya Guss. Hehehe.. Asli gak lucu ya?

Sejarah suporter sepakbola bisa dibilang sama tuanya dengan olahraga tersebut. Mereka sudah ada ketika sepakbola juga muncul. Tetapi peran mereka lebih terasa ketika sepakbola sudah dijadikan mesin industri. Negara eropa berperan penting dalam lahirnya kelompok-kelompok suporter. Diawali dengan Ultras di Italia, ketika itu apa yang dilakukan oleh ultaras cukup unik, mereka tidak hanya duduk diam sambil sedikit teriak saat menonton pertandingan sepakbola. Mereka juga melakukan aksi teatrikal lainnya, seperti bernyanyi bersama, memakai kostum yang sama, aneka jenis bendera, panji-panji dan spanduk raksasa, bom asapwarna-warni, nyala kembang api dan yang lainnya
Ultras memang menjadi pelopr sepakbola yang terorganisir dan memberikan warna baru bagi dunia sepakbola

Aksi mereka ini lalu diikuti dan menular kepada perilaku suporter lainnya seperti Tartan Army di Skotlandia, denmark dengan rolligannya. Bahkan klub-klub di eropa juga memiliki komunitas uporter seperti, Liverpudlian (suporternya Liverpool), Milanisti (AC Milan), Laziale (Lazio), Internisti (InterMilan), dan lain-lain.
Yah suporter sepakbola sudah menjadi kewajiban yang harus ada dalam setiap pertandingan sepakbola. Saking pentingnya mereka mendapat gelar sebagai pemain ke 12. saat ini suporter tidak hanya datang untuk menonton sepakbola, mereka juga yang menjadikan hidup suatu pertandingan.

Suporter memberi arti pada sebuah bisnis tontonan olahraga, khususnya sepakbola. Dalam bingkai sebuah pertunjukan, suporter saat ini mengambil dua peran sekaligus yaitu sebagai penampil (performer) dan penonton (audience). Sebagai penampil (performer) yang ikut menentukan jalannya pertandingan sepakbola, suporter kemudian menetapkan identitas yang membedakannya dengan penonton biasa. Suporter jauh lebih banyak bergerak, bersuara dan berkreasi di dalam stadion dibanding penonton yang terkadang hanya ingin menikmati suguhan permainan yang cantik dari kedua tim yang bertanding. Suporter dengan peran penyulut motivasi dan penghibur itu biasanya membentuk kerumunan dan menempati area atau tribun tertentu di dalam stadion. Para fanatik ini menemukan kebahagiaan dengan jalan mendukung secara all out tim kesayangannya, sekaligus memenuhi kebutuhan mereka akan ritus kepuasan yang tidak dapat dilakukan sendirian. Itulah sepak bola, yang begitu cepat bermutasi dari sekedar olahraga lalu menjadi suatu bisnis pertunjukan yang menghadirkan fenomena ritus sosial. (Aji Wibowo, dapat dilihat di www.bangunsuporter.blogspot.com)
Tapi itu tadi Suporter juga memiliki sifat buruk. Sifat ini kadang-kadang yang membuat klub serasa memakan buah simalakama. Selain atraktif suporter juga terkadang bersifat anarkis, yang dengannya membuat klub atau negara sering dirugikan. Lihat aja bagaimana akibat tragedy Heysel, klub-klub Inggris dilarang bermain di kompetisi antarklub Eropa. Begitu juga dengan pertandingan sepakbola di Indonesia, banyak kluab yang dihukum hingga ratusan juta rupiah akibat ulah yang dilakukan oleh suporternya.

0 komentar:

Poskan Komentar